Rabu, 13 Desember 2017

Burung Menangis Di Dalam Sangkarnya

12 Desember 2017

2 tahun  setelah mamahku meninggal, aku mencoba untuk menjadi seorang anak yang baik. Aku tahu bahwa kesedihan tak akan pernah terhapus dari diriku dan masa laluku. Aku mencoba memahami keadaan yang selama ini berjalan di dalam kehidupanku. Begitupun hubungan diriku dengan ayahku..begitu berliku hingga aku dapat kembali membuka ruang untuk dirinya. Tapi akhir-akhir ini ayahku menyatakan padaku bahwa ia akan menikah kembali untuk kedua kalinya setelah mamahku meninggal. Hal ini tidak menjadi masalah sebenarnya tetapi mengapa aku menangis ketika mendengarnya...seperti anak burung yang terkena terpaan angin dalam sangkarnya. Hatiku seperti berteriak mengatakan mengapa aku menangis ketika keinginan ayahku di sampaikan kepadaku. Aku hanya bisa terdiam ketika mendengarnya dan seperti biasa air mataku mengalir, saat itu aku meminta penjelasan. Aku tak menyalahkan keinginan ayahku, tidak sedikitpun, aku mengatakan jawabanku dengan hati yang lapang bahwa aku menyetujuinya dengan hal-hal yang hars di pertimbangkan oleh ayahku. Keikhlasan memang akan menyertakan dirimu pada pelepasan yang paling nyaman, itulah yang kurasakan. Aku berharap ayahku dapat mengetahui dalamnya hatiku untuk dirinya. Aku mencintainya lebih dari diriku, dan aku belajar banyak dari hubungan yang terjadi di antara aku dan ayah. karena aku yakin, aku dapat menerimanya seperti burung kecil yang menerima patahan ranting yang jatuh pada sarangnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Translate

Pages